Anemia – Definisi, Penyebab, Gejala, Diagnosis, Komplikasi, Pencegahan & Pengobatan

 

Anemia
Sumber: freepik.com

Pengertian Anemia

Anemia adalah sebuah kondisi medis di mana seseorang mengalami pengurangan jumlah sel darah merah di dalam tubuh. Sel-sel darah merah memiliki tugas penting untuk membawa oksigen ke seluruh bagian tubuh. Ketika kadar sel darah merah yang dimiliki tidak mencapai batas normal, maka gejala seperti rasa lelah, kelemahan, kulit pucat, dan kesulitan bernapas dapat dirasakan oleh pasien.

Penyebab & Faktor Risiko Anemia

Penyebab dan faktor risiko anemia dapat bervariasi. Beberapa penyebab umum anemia meliputi kekurangan nutrisi seperti asam folat atau zat besi, perdarahan internal atau eksternal, serta gangguan pada produksi sel darah merah.

Kekurangan nutrisi dapat menjadi penyebab utama anemia. Kekurangan zat besi (anemia defisiensi zat besi) merupakan jenis anemia yang paling umum terjadi. Zat besi diperlukan untuk pembentukan hemoglobin, protein yang membantu sel darah merah mengangkut oksigen. Faktor risiko untuk kekurangan zat besi meliputi diet yang rendah zat besi, menstruasi yang berlebih lama dan berat, serta kehamilan.

Gejala Anemia

Gejala anemia dapat bervariasi tergantung pada tingkat keparahan kondisi tersebut. Beberapa gejala umum yang sering dialami oleh penderita anemia meliputi:

  1. Kelelahan dan lemah: Penderita anemia biasanya merasa mudah lelah dan memiliki kelemahan yang berlebihan. Hal ini disebabkan karena kurangnya pasokan oksigen ke seluruh tubuh.
  2. Kulit pucat: Salah satu tanda fisik yang paling jelas dari anemia adalah kulit yang tampak pucat.
  3. Sesak napas: Kekurangan oksigen dalam tubuh dapat menyebabkan penderita anemia merasa sesak napas saat melakukan aktivitas ringan.
  4. Pusing dan kepala terasa ringan: Kurangnya pasokan oksigen ke otak dapat menyebabkan pusing dan kepala terasa ringan pada penderita anemia.
  5. Nafsu makan menurun: Penderita anemia seringkali kehilangan nafsu makan dan mengalami penurunan berat badan karena kekurangan energi yang disebabkan oleh kurangnya oksigen dalam tubuh
  6. Gangguan konsentrasi: Anemia juga dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi dan mengingat dengan baik.

Jenis-Jenis Anemia

Ada beberapa tipe anemia yang dapat mempengaruhi seseorang. Tipe-tipe anemia tersebut meliputi:

  1. Anemia Defisiensi Zat Besi: Merupakan jenis anemia yang paling umum terjadi. Penyebab utamanya adalah kekurangan zat besi dalam tubuh, sehingga mengganggu produksi hemoglobin dan sel darah merah.
  2. Anemia Megaloblastik: Dapat disebabkan oleh kurangnya vitamin B12 atau asam folat dalam tubuh. Kekurangan vitamin ini menghambat produksi sel darah merah yang sehat dan berfungsi dengan baik.
  3. Aplastic Anemia: Terjadi ketika tubuh tidak dapat menghasilkan jumlah sel darah merah yang cukup karena sumbat produksi di sumsum tulang yang rendah.
  4. Hemolytic Anemia: Ditandai dengan pemecahan sel darah merah yang berlebihan, baik karena faktor genetik maupun faktor lingkungan.
  5. Sickle Cell Anemia: Merupakan kondisi genetik yang menyebabkan sel darah merah menjadi kaku dan berbentukuran helix, mengurangi pasokan oksigen ke berbagai organ tubuh.
  6. Anemia Defisiensi G6PD: Merupakan jenis anemia yang disebabkan oleh defisiensi enzim G6PD, yang berperan dalam melindungi sel darah merah dari kerusakan.
  7. Anemia Sekunder: Anemia sekunder terjadi sebagai akibat dari kondisi atau penyakit lain dalam tubuh, seperti penyakit ginjal, kanker, penyakit autoimun, atau infeksi kronis.
  8. Anemia Karena Inflamasi: Tipe anemia yang jarang terjadi, tetapi dapat terjadi sebagai akibat dari proses peradangan kronis dalam tubuh maupun infeksi yang mengganggu produksi dan fungsi sel darah merah.

Diagnosis Anemia

Diagnosis anemia dapat dilakukan melalui beberapa langkah dan pemeriksaan medis. Langkah pertama adalah melakukan wawancara medis untuk mengetahui riwayat kesehatan pasien serta gejala yang dialami. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari tanda-tanda anemia seperti kulit pucat, bibir pucat, atau konjungtiva mata yang pucat. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan darah lengkap (complete blood count) untuk melihat jumlah sel darah merah dan kualitasnya, termasuk tingkat hemoglobin. Setelah diagnosis anemia didapatkan, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi penyebab yang mendasarinya.

Komplikasi Anemia

Komplikasi anemia dapat timbul jika kondisi ini tidak diatasi dengan baik. Beberapa komplikasi yang bisa terjadi akibat anemia adalah:

  1. Penurunan kualitas hidup: Anemia dapat menyebabkan kelelahan, lemah, dan kurangnya energi pada penderitanya sehingga berpengaruh pada aktivitas sehari-hari dan produktivitas kerja.
  2. Gangguan pertumbuhan: Pada anak-anak, anemia yang kronis atau parah dapat menghambat pertumbuhan fisik maupun mental.
  3. Masalah dalam kehamilan: Anemia pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti persalinan prematur, bayi dengan berat lahir rendah, dan kemungkinan meningkatkan risiko kehamilan yang tidak berhasil.
  4. Masalah jantung dan pembuluh darah: Anemia yang parah dapat menyebabkan penurunan aliran oksigen ke jantung dan pembuluh darah, yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, gagal jantung, atau menyebabkan masalah pada irama jantung.
  5. Penurunan kemampuan kognitif: Anemia yang berkepanjangan dapat menyebabkan gangguan pada fungsi kognitif, termasuk masalah ingatan, konsentrasi, dan pemrosesan informasi.

Pengobatan Anemia

Terapi anemia akan bervariasi tergantung pada faktor penyebabnya. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi anemia meliputi:

  1. Suplemen zat besi: Jika anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi, dokter mungkin akan merekomendasikan suplemen zat besi oral atau intravena untuk meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah.
  2. Suplemen vitamin B12 dan asam folat: Jika anemia dikarenakan kurangnya vitamin B12 atau asam folat, maka suplemen ini bisa diberikan untuk membantu meningkatkan produksi sel darah merah.
  3. Terapi transfusi darah: Jika anemia sangat parah dan menyebabkan gejala yang mengancam nyawa, terapi transfusi darah dapat dilakukan untuk menggantikan sel darah merah yang hilang.
  4. Pengobatan penyakit yang mendasari: Jika anemia disebabkan oleh kondisi medis lain seperti infeksi cacing, malaria, talasemia, atau penyakit jantung dan ginjal, pengobatan akan ditujukan untuk mengatasi penyakit tersebut sehingga anemia dapat membaik.
  5. Perubahan pola makan: Memperbaiki pola makan dengan memasukkan makanan yang kaya zat gizi, seperti daging merah, hati, daun hijau, kacang-kacangan, dan sereal yang diperkaya zat besi dapat membantu meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah.

Pencegahan Anemia

Pencegahan anemia sangat penting dalam mengurangi risiko terjadinya kondisi ini. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah anemia antara lain:

  1. Konsumsi makanan bergizi: Pastikan asupan makanan sehari-hari mencakup berbagai macam sumber zat besi, vitamin B12, dan asam folat. Makanan seperti daging merah, hati, ikan laut, kacang-kacangan, sayuran hijau, buah-buahan, dan biji-bijimerupakan sumber yang baik untuk menghindari kekurangan nutrisi dan mencegah anemia.
  2. Aktif secara fisik: Melakukan aktivitas fisik seperti olahraga secara teratur dapat membantu meningkatkan produksi sel darah merah dan membantu dalam penyerapan zat besi.
  3. Pemeriksaan rutin: Merawat kesehatan secara keseluruhan termasuk menjalani pemeriksa kesehatan rutin dapat membantu mendeteksi gangguan kesehatan yang mungkin menjadi penyebab anemia dan mengambil tindakan pencegahan yang tepat sebelum kondisi tersebut berkembang menjadi anemia.
  4. Penggunaan metode pengolahan pangan yang tepat, seperti fermentasi kedelai menjadi tempe, dapat meningkatkan kualitas bahan pangan dan nilai gizi yang tinggi, sehingga dapat mencegah kejadian anemia (Pinasti et al., 2020).
  5. Membatasi konsumsi minuman berkafein dan alkohol: Minuman berkafein seperti kopi, teh, dan minuman beralkohol dapat mengganggu penyerapan zat besi dalam tubuh.
  6. Mengelola stres: Stres kronis dapat mempengaruhi penyerapan zat besi dalam tubuh, sehingga menjadi faktor risiko terjadinya anemia.
  7. Memeriksakan kondisi kesehatan secara rutin dan berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan informasi dan saran yang lebih spesifik mengenai pencegahan dan penanggulangan anemia.
  8. Memperhatikan kualitas tidur yang cukup: Kurangnya tidur atau pola tidur yang tidak teratur dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan mengganggu produksi sel darah merah.
  9. Menghindari paparan zat kimia berbahaya: Paparan jangka panjang terhadap zat-zat kimia berbahaya dapat mengganggu proses produksi sel darah merah dan meningkatkan risiko terjadinya anemia.
  10. Menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan: Infeksi parasit, terutama yang disebabkan oleh contoh seperti cacing tambang, dapat menyebabkan kehilangan darah dan defisiensi zat besi, yang pada akhirnya dapat menyebabkan anemia.

 

Referensi

Pinasti, L., Nugraheni, Z., & Wiboworini, B.. (2020, May 20). Potensi tempe sebagai pangan fungsional dalam meningkatkan kadar hemoglobin remaja penderita anemia. https://scite.ai/reports/10.30867/action.v5i1.192