Bell's Palsy – Definisi, Penyebab, Gejala, Diagnosis, Komplikasi, Pencegahan & Pengobatan

Bell's Palsy
Sumber: palphysiotherapy.com


Pengertian Bell’s Palsy

Bell’s Palsy adalah suatu kondisi medis yang mengakibatkan kelumpuhan sementara pada satu sisi wajah. Kondisi ini merupakan salah satu jenis kelumpuhan saraf pada wajah yang biasanya terjadi hanya di satu sisi saja.

Kelumpuhan Bell’s Palsy sering kali muncul secara tiba-tiba dan dapat mempengaruhi berbagai fungsi motorik seperti kemampuan untuk mengendalikan otot-otot wajah, termasuk kendali atas mata, bibir, hidung, dan alis.

Penyebab Bell’s Palsy

Bell’s Palsy disebabkan oleh infeksi virus herpes simplex yang mengenai saraf wajah. Infeksi virus ini dapat menyebabkan peradangan pada saraf wajah dan mengganggu kemampuan normal saraf tersebut untuk mengendalikan otot-otot wajah.Dalam beberapa kasus, infeksi virus lain seperti virus varicella-zoster atau cytomegalovirus juga bisa menjadi penyebab Bell’s Palsy. Penelitian juga menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti stres, kondisi autoimmun, dan riwayat keluarga dengan risiko Bell’s Palsy juga dapat berkontribusi terhadap perkembangan kondisi ini.

Gejala Bell’s Palsy

Gejala yang umum terjadi pada Bell’s Palsy meliputi kelumpuhan atau kelemahan otot-otot wajah pada satu sisi wajah, kesulitan dalam menggerakkan mata atau menutup mata sepenuhnya, kesulitan dalam mengunyah atau menyebabkan rasa sakit pada salah satu sisi wajah, hilangnya sensasi pada salah satu sisi wajah, rasa sakit atau ketidaknyamanan di sekitar telinga, perububahan dalam rasa atau pembauan, dan kepekaan terhadap suara yang tinggi.

Diagnosis Bell’s Palsy

Diagnosis Bell’s Palsy biasanya didasarkan pada gejala yang dialami oleh pasien dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik melibatkan pengamatan terhadap kelumpuhan pada sisi wajah, melihat apakah pasien dapat menggerakkan mata dengan bebas, melakukan tes kepekaan pada wajah terhadap sentuhan, dan memeriksa refleks saraf wajah. 

Dalam beberapa situasi, dokter bisa saja memperoleh tambahan informasi melalui pemeriksaan tes lain seperti pemeriksaan darah untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain yang memiliki gejala serupa dan tes pencitraan seperti MRI untuk memeriksa adanya peradangan atau kerusakan pada saraf wajah.

Faktor Risiko Bell’s Palsy

Meskipun Bell’s Palsy dapat terjadi pada siapa saja, ada beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang untuk mengembangkan kondisi ini. Faktor risiko tersebut termasuk usia, kehamilan, diabetes, obesitas, hipertensi, infeksi saluran pernapasan, riwayat keluarga dengan Bell’s Palsy, serta vaksinasi.

Komplikasi Bell’s Palsy

Komplikasi yang mungkin terjadi akibat Bell’s Palsy meliputi infeksi telinga tengah, gangguan pencernaan, gangguan penglihatan, dan masalah emosional seperti depresi atau kecemasan.

Pengobatan Bell’s Palsy

Pengobatan untuk Bell’s Palsy bergantung pada tingkat keparahan dan individu. Pada kasus yang ringan, Bell’s Palsy biasanya akan pulih dengan sendirinya dalam beberapa minggu atau bulan. Namun, untuk membantu mempercepat pemulihan dan mengurangi gejala, beberapa tindakan pengobatan dapat dilakukan. 

Tindakan pengobatan yang mungkin dilakukan termasuk pemberian obat kortikosteroid untuk mengurangi peradangan dan membantu mengurangi pembengkakan pada saraf wajah, fisioterapi untuk mempertahankan fleksibilitas dan kekuatan otot wajah, serta terapi okupasi untuk membantu memulihkan keterampilan dan fungsi sehari-hari yang terpengaruh oleh Bell’s Palsy.

Pencegahan Bell’s Palsy

Saat ini, belum ada cara yang diketahui secara pasti untuk mencegah Bell’s Palsy. Namun, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi risiko terkena kondisi ini. 

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terkena Bell’s Palsy antara lain menjaga kesehatan dan kekuatan sistem kekebalan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga teratur, cukup memenuhi kebutuhan tidur yang cukup, menjaga kebersihan diri dan kesehatan gigi yang baik, serta menghindari paparan infeksi virus seperti varicella-zoster dan Epstein-Barr.