Hipertensi (Darah Tinggi) – Definisi, Penyebab, Gejala, Diagnosis, Komplikasi, Pengobatan & Pencegahan

 

Hipertensi
Sumber: shutterstock.com


Pengertian Hipertensi

Hipertensi (dikenal juga sebagai tekanan darah tinggi) adalah kondisi di mana tekanan darah dalam arteri secara terus-menerus meningkat di atas rentang normal. 

Secara umum, tekanan darah normal adalah kurang dari 120/80 mmHg. Namun, jika tekanan darah melebihi angka ini dan jika tekanan darah tetap tinggi selama waktu yang lama, dapat menyebabkan kerusakan pada organ tubuh seperti jantung, otak, dan ginjal.

Tekanan darah tinggi tidak hanya dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang tetapi juga meningkatkan risiko terjadinya berbagai komplikasi penyakit seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, dan masalah pada pembuluh darah.

Penyebab & Faktor Risiko Hipertensi

Penyebab dari hipertensi dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor genetik memainkan peran besar dalam kemungkinan seseorang mengembangkan hipertensi, artinya jika salah satu atau kedua orang tua Anda menderita hipertensi, Anda memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengembangkan kondisi ini. 

Di samping itu, kebiasaan hidup yang tidak sehat seperti pola makan yang tidak seimbang, kurangnya aktivitas fisik, dan konsumsi alkohol yang berlebihan juga dapat meningkatkan risiko terjadinya hipertensi.

Edukasi yang diberikan mengenai hipertensi berfungsi untuk memberikan pemahaman tentang kondisi ini dan mengajarkan cara-cara pencegahan dan pengendaliannya (Adiatman & Nursasi, 2020).

Gejala Hipertensi

Hipertensi sering disebut sebagai "pembunuh senyap" karena kebanyakan orang tidak merasakan adanya gejala saat tekanan darah mereka tinggi. Namun, ada beberapa tanda yang dapat menjadi petunjuk bahwa seseorang mungkin mengalami hipertensi. Beberapa gejala umum hipertensi meliputi:

  1. Kondisi dengan gejala nyeri kepala, terutama saat pagi hari.
  2. Kehilangan penglihatan atau penglihatan kabur.
  3. Sesak napas.
  4. Mual atau muntah.
  5. Kelelahan atau kelemahan yang tidak dapat dijelaskan.
  6. Nyeri dada atau ketidaknyamanan pada dada

Diagnosis Hipertensi

Diagnosis hipertensi dapat dilakukan melalui pengukuran tekanan darah. Jika hasil pengukuran menunjukkan angka tekanan sistolik (angka atas) melebihi 140 mmHg dan/atau angka diastolik (angka bawah) melebihi 90 mmHg dalam beberapa kali pengukuran yang berbeda, maka seseorang dapat didiagnosis dengan hipertensi.

Selain itu, pemeriksaan tambahan juga dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab hipertensi dan melihat apakah sudah ada kerusakan organ tubuh akibat hipertensi.

Komplikasi Hipertensi

Komplikasi akibat hipertensi merupakan hal yang penting untuk diwaspadai dan dicegah. Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan berbagai komplikasi penyakit seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, dan masalah pada pembuluh darah. Komplikasi ini memberikan dampak negatif pada kualitas hidup seseorang dan juga meningkatkan risiko kecacatan atau bahkan kematian.

Untuk menghindari terjadinya komplikasi tersebut, pencegahan dan pengendalian hipertensi sangat penting.

Pengobatan Hipertensi

Pengobatan hipertensi adalah tindakan yang penting dalam mengendalikan kondisi ini dan mencegah terjadinya komplikasi penyakit lebih lanjut. Tujuan dari pengobatan hipertensi adalah untuk menjaga tekanan darah agar tetap stabil dan mendekati target terapi yang telah ditentukan oleh dokter.

Ada beberapa jenis obat yang digunakan untuk mengobati hipertensi meliputi beberapa jenis seperti diuretik, beta blocker, ACE inhibitor, ARB (angiotensin receptor blocker), dan calcium channel blocker. 

Diuretik bekerja dengan meningkatkan pengeluaran air dan garam dari tubuh sehingga menurunkan tekanan darah. Beta blocker secara selektif memblokir reseptor adrenalin, sedangkan ACE inhibitor berfungsi menghambat enzim konversi angiotensin I menjadi angiotensin II yang bisa menyebabkan penyempitan pembuluh darah. 

Sementara itu ARB juga memiliki mekanisme kerja serupa dengan ACE inhibitor namun langsung bekerja pada reseptor angiotensin II tanpa harus melalui langkah penekanan hormon rennin-angiotensin sistem.

Selanjutnya ada pula calcium channel blockers atau antagonis kalsium dalam bahasa Indonesia yang membantu melebarkan pembuluh darah agar aliran darah tidak terhambat. Pemilihan jenis obat ini akan disesuaikan oleh dokter sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien.

Selain pengobatan, penting juga bagi pasien hipertensi untuk melakukan perubahan gaya hidup yang sehat.

Pencegahan & Pengendalian Hipertensi

Pencegahan dan pengendalian hipertensi merupakan langkah yang penting untuk mencegah terjadi komplikasi pada organ tubuh akibat tekanan darah tinggi. Hipertensi dapat menyebabkan berbagai kerusakan pada organ tubuh seperti infark miokard, stroke, gagal ginjal, dan bahkan kematian.

Untuk mencegah terjadinya komplikasi tersebut, perlu dilakukan beberapa upaya pencegahan dan pengendalian. Salah satunya adalah menjaga angka tekanan darah agar tetap stabil dan mendekati goal terapi yang telah ditentukan. Selain itu, penting juga bagi pasien hipertensi untuk memiliki pengetahuan yang cukup tentang penyakit mereka dan mengikuti pengobatan yang diberikan secara patuh. Upaya peningkatan pengetahuan akan membantu pasien dalam menghadapi kekambuhan atau melakukan pencegahan agar komplikasi tidak terjadi.

 

Referensi

Adiatman, A., & Nursasi, A. Y.. (2020, April 5). Efektifitas Edukasi dalam Pencegahan dan Pengendalian Hipertensi. https://scite.ai/reports/10.33846/sf11302