Acquired Imunodeficiency Syndrome (AIDS/HIV) – Definisi, Penyebab, Gejala, Diagnosis, Komplikasi, Pencegahan & Pengobatan

 

HIV
Sumber: rotendaokab.go.id

Pengertian AIDS

AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome yang merupakan tahap lanjut dari infeksi HIV. AIDS terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menjadi sangat lemah akibat virus HIV menyerang sel-sel imun dalam tubuh.

Virus HIV menyebar melalui darah, cairan semen, cairan vagina, dan air susu ibu. Setelah masuk ke dalam tubuh, virus ini dapat berdiam diri tanpa menunjukkan gejala apapun untuk waktu yang lama, yakni sekitar 10 hingga 12 tahun.

Penyebab & Faktor Risiko AIDS

HIV dapat menyebar melalui hubungan seksual yang tidak aman, penggunaan jarum suntik bersama, transfusi darah yang tidak steril, atau dari ibu kepada bayi selama kehamilan, persalinan, atau menyusui. Sumber penularan lain yang tidak umum meliputi transplantasi organ dan paparan langsung terhadap bahan-bahan darah terkontaminasi.

Gejala AIDS

Gejala HIV biasanya muncul dalam beberapa minggu setelah terinfeksi dan mirip dengan gejala flu, seperti kelelahan, sakit kepala, demam, keringat malam, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Selama tahap infeksi HIV awal, gejala biasanya ringan dan mungkin bahkan tidak terlihat. Namun, setelah virus HIV tetap berada dalam tubuh untuk jangka waktu yang lama tanpa pengobatan, infeksi HIV akan berkembang menjadi AIDS.

Diagnosis AIDS

Diagnosis HIV/AIDS biasanya dilakukan melalui tes darah yang bertujuan untuk mendeteksi keberadaan virus Human Immunodeficiency Virus. Tes ini dapat mengidentifikasi adanya infeksi HIV dalam tubuh dengan memeriksa kadar antibodi atau antigen spesifik yang diproduksi oleh virus. Selain itu, terdapat juga metode tes lain seperti tes RNA atau DNA yang digunakan untuk mendeteksi materi genetik dari vi

Setelah diagnosis AIDS didapatkan, langkah selanjutnya adalah menentukan stadium penyakit tersebut. Diagnosis stadium AIDS ditegakkan berdasarkan penilaian klinis serta hasil pemeriksaan laboratorium dan radiologi yang menyeluruh. Penting untuk melakukan evaluasi secara berkala guna memantau perkembangan penyakit dan efektivitas pengobatan pada pasien.

Penularan AIDS/HIV

Penularan HIV/AIDS dapat terjadi melalui beberapa cara, antara lain:

  1. Hubungan seksual yang tidak aman: Kontak seksual tanpa penggunaan kondom dengan seseorang yang terinfeksi HIV/AIDS dapat menyebar melalui hubungan seksual yang tidak aman.
  2. Pemakaian jarum suntik bersama: Berbagi jarum suntik atau alat penyuntik narkoba dengan orang yang terinfeksi HIV/AIDS dapat menyebabkan penularan virus tersebut.
  3. Transfusi darah yang tidak steril: Jika darah yang terinfeksi HIV/AIDS digunakan dalam transfusi darah, maka virus akan ditularkan kepada penerima darah.
  4. Penggunaan alat-alat medis yang tidak steril: Penggunaan alat medis yang tidak steril, seperti jarum suntik atau instrumen bedah yang tidak steril, juga dapat menjadi cara penularan HIV/AIDS.

Komplikasi AIDS

Komplikasi AIDS meliputi penurunan sistem kekebalan tubuh yang parah, sehingga tubuh menjadi rentan terhadap infeksi dan penyakit lainnya. Selain itu, penderita AIDS juga rentan terhadap berbagai jenis kanker, infeksi bakteri atau jamur yang sulit diobati, penyakit jantung, gangguan neurologis, dan masalah kesehatan mental.

Dampak AIDS

Tingginya prevalensi HIV/AIDS memiliki dampak yang luas, tidak hanya pada individu yang terinfeksi, tetapi juga pada keluarga, masyarakat, dan negara secara keseluruhan. Pada individu yang terinfeksi, dampak AIDS dapat berupa penurunan kualitas hidup karena adanya gangguan kesehatan fisik dan mental yang signifikan. Selain itu, mereka juga harus menghadapi stigma dan diskriminasi yang dapat mempengaruhi kesejahteraan sosial dan psikologis mereka.

Pengobatan AIDS

Saat ini, masih belum ada obat yang dapat menyembuhkan AIDS. Namun, terdapat pengobatan yang dapat membantu mengontrol virus HIV dan meningkatkan kualitas hidup penderita AIDS. Pengobatan HIV/AIDS dikenal sebagai terapi antiretroviral. Terapi antiretroviral melibatkan penggunaan kombinasi obat-obatan untuk menekan perkembangan virus HIV dalam tubuh. Pengobatan AIDS sangat penting dalam mengendalikan perkembangan virus HIV dan memperpanjang harapan hidup penderita AIDS.

ART melibatkan kombinasi dari beberapa jenis obat-obatan yang bekerja bersama-sama untuk menekan replikasi virus dan meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh. Contoh-contoh obat antiretroviral yang umum digunakan dalam pengobatan AIDS meliputi inhibitor nukleosida invers transkriptase, inhibitor non-nukleosida invers transkriptase, inhibitor protease, dan inhibitor integrase.

Contoh dari NRTI adalah zidovudine, lamivudine, dan tenofovir. Selain itu, terdapat juga inhibitor non-nukleosida revers transkriptase. Obat-obatan golongan ini tidak tergantung pada struktur nukleotida untuk membantu penghambatan aktivitas reverse transcriptase pada HIV.

Upaya Penanganan & Pencegahan AIDS

Untuk mengatasi pandemi HIV/AIDS, diperlukan upaya penanganan dan pencegahan yang komprehensif. Ini melibatkan pendekatan multidisiplin dan kolaborasi antara sektor kesehatan, pemerintah dan masyarakat.

Pencegahan AIDS adalah langkah kunci dalam mengatasi pandemi ini. Untuk mencegah penularan HIV, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan. Pertama-tama, edukasi tentang HIV/AIDS sangat penting. Pengetahuan yang akurat tentang cara penularan dan pencegahan virus ini dapat memberikan panduan kepada individu untuk mengambil langkah-langkah pencegahan yang sesuai.

Selain itu, penggunaan kondom saat berhubungan seksual dapat mengurangi risiko penularan HIV secara signifikan. Kondom merupakan salah satu alat pencegahan yang efektif dalam menghindari penularan HIV melalui hubungan seksual. Selain itu, penggunaan jarum suntik yang bersih dan tidak digunakan secara bersama-sama juga penting dalam pencegahan penularan HIV. Selain pendekatan pencegahan primer seperti edukasi dan penggunaan kondom, juga penting untuk melakukan pemeriksaan teratur dan tes HIV untuk mendeteksi infeksi dengan segera.