Batuk Rejan (Pertusis) – Definisi, Penyebab, Gejala, Diagnosis, Komplikasi, Pencegahan & Pengobatan

 

Pertusis
Sumber: osmosis.org

Pengertian Pertusis

Pertusis, yang umumnya dikenal dengan nama batuk rejan, adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Infeksi ini ditandai dengan serangan batuk yang parah dan berkepanjangan, terkadang diikuti oleh suara mengi atau nafas tersengal-sengal saat manusia bernapas dalam. 

Pertusis bisa menyerang siapa saja, namun paling berbahaya bagi bayi di bawah satu tahun karena dapat menyebabkan komplikasi yang serius.

Penyebab & Faktor Risiko Pertusis

Penyebab Pertusis adalah infeksi oleh bakteri Bordetella pertussis. Bakteri ini menyebar melalui droplet yang dihasilkan saat seseorang yang terinfeksi batuk atau bersin. Faktor risiko bagi penyakit ini termasuk:

  1. Belum mendapatkan imunisasi lengkap: Bayi dan anak-anak yang belum divaksinasi sepenuhnya memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena Pertusis.
  2. Penurunan kekebalan: Individu dengan sistem kekebalan yang melemah, seperti lansia atau orang-orang dengan kondisi medis yang membuat mereka rentan terhadap infeksi, memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena Pertusis.

Gejala Pertusis

Gejala Pertusis dapat bervariasi tergantung pada usia individu yang terinfeksi. Pada bayi di bawah 6 bulan, gejalanya mungkin berupa tahap awal batuk ringan, tersedak atau kekeruhan napas, sianosis (kulit pucat atau kebiruan), apnea (berhentinya pernapasan) atau gag.

Pada anak-anak dan dewasa, gejala pertusis sering kali dimulai dengan tahap seperti flu biasa: hidung tersumbat, bersin, dan demam ringan. Namun, setelah beberapa minggu, batuk yang berkepanjangan dan parah akan muncul. Batuk rejan (pertusis) sering kali disertai dengan serangan batuk yang parah dan berkepanjangan. Hal ini biasanya diakibatkan oleh komplikasi infeksi yang terjadi pada penderita.

Diagnosis Pertusis

Diagnosis Pertusis dapat dilakukan melalui beberapa metode. Salah satunya adalah dengan melakukan tes laboratorium, seperti kultur bakteri dari sampel lendir atau cairan hidung yang diambil. Tes ini penting untuk mengidentifikasi keberadaan bakteri Bordetella pertussis.

Selain itu, dokter juga dapat melakukan tes serologi untuk menentukan apakah seseorang telah terkena Pertusis sebelumnya. Tes darah ini akan mencari adanya antibodi spesifik terhadap bakteri Bortadella pertussis.

Komplikasi Pertusis

Komplikasi Pertusis dapat menjadi serius, terutama pada bayi dan anak kecil. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat Pertusis antara lain:

  1. Pneumonia: Infeksi bakteri pada paru-paru dapat menyebabkan pneumonia, yang merupakan peradangan paru-paru yang bisa menjadi mematikan jika tidak diobati dengan cepat dan tepat.
  2. Otot Nafas yang Melemah: Batuk berkepanjangan dan parah akibat pertusis dapat membuat otot-napas menjadi lemah.
  3. Apnea: Pertusis dapat menyebabkan berhenti napas atau apnea pada bayi dan anak-anak yang belum terdiagnosis atau tidak mendapatkan pengobatan yang tepat.
  4. Ensefalopati: Infeksi Pertusis yang parah dapat menyebabkan peradangan pada otak, yang dapat mengakibatkan ensefalopati atau kerusakan pada sistem saraf.

Pengobatan Pertusis

Pengobatan Pertusis biasanya melibatkan penggunaan antibiotik, seperti azitromisin atau eritromisin. Antibiotik tersebut dapat membantu mengurangi durasi dan keparahan batuk serta mencegah penyebaran infeksi kepada orang lain.

Selain itu, pasien juga mungkin perlu menjalani terapi suportif untuk mengelola gejala-gejala yang timbul akibat Pertusis. Terapi ini bisa mencakup pemberian obat pereda batuk, minum banyak cairan dan istirahat yang cukup.

Pencegahan Pertusis

Pencegahan Pertusis sangat penting untuk mencegah penyebaran infeksi kepada orang lain. Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Vaksinasi: Salah satu cara terbaik untuk mencegah Pertusis adalah dengan mendapatkan vaksinasi Tdap secara rutin. Vaksin ini diberikan kepada bayi dan anak-anak pada usia tertentu serta orang dewasa yang belum pernah mendapatkannya atau membutannya penyegaran.
  2. Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat: Penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai Pertusis, termasuk gejala-gejalanya dan pentingnya vaksinasi.
  3. Hindari kontak dengan orang yang terinfeksi Pertusis: Orang yang terkena Pertusis harus mengisolasi diri dan menghindari kontak langsung dengan orang lain, terutama bayi yang belum divaksinasi atau memiliki sistem kekebalatan yang lemah.
  4. Praktik Kebersihan yang Baik: Rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menutup mulut saat batuk dan bersin, serta menjaga kebersihan lingkungan dapat membantu mengurangi risiko penyebaran Pertusis.
  5. Pengobatan Pertusis membutuhkan langkah yang tepat dan cepat.