Bulimia Nervosa – Definisi, Penyebab, Gejala, Diagnosis, Komplikasi, Pencegahan & Pengobatan

Bulimia
Sumber: verywellmind.com

 

Pengertian Bulimia Nervosa

Bulimia Nervosa adalah gangguan makan yang ditandai oleh siklus berulang dari makan berlebihan (binge eating) dan perilaku kompensasi seperti memuntahkan kembali makanan yang telah dimakan (purging) atau penggunaan obat pencahar. 

Orang dengan bulimia nervosa cenderung kehilangan kontrol atas asupan makanannya saat mereka sedang dalam periode binge eating, sehingga mengonsumsi jumlah kalori yang jauh lebih banyak daripada biasanya dalam waktu singkat. 

Setelah periode binge eating, mereka merasa bersalah dan berusaha untuk menghilangkan kalori yang telah mereka konsumsi melalui purging, seperti memuntahkan kembali makanan atau menggunakan obat pencahar.

Penyebab & Faktor Risiko Bulimia Nervosa

Penyebab dan faktor risiko Bulimia Nervosa belum sepenuhnya dipahami, namun ada beberapa faktor yang diduga berperan dalam perkembangan gangguan makan ini. Beberapa faktor yang dikaitkan dengan bulimia nervosa antara lain:

  1. Faktor genetik: Studi-studi menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara anggota keluarga yang menderita bulimia nervosa, sehingga dapat menyiratkan adanya faktor genetik dalam pengembangan penyakit ini.
  2. Faktor psikologis: Ada hubungan antara gangguan mood seperti depresi, kecemasan, dan rendah harga diri dengan perkembangan bulimia nervosa.
  3. Faktor lingkungan: Tuntutan sosial untuk memiliki tubuh yang kurus dan citra tubuh yang tidak realistis. Munculnya gangguan makan seperti bulimia nervosa tidak bisa hanya disebabkan oleh satu faktor tunggal, tetapi melibatkan interaksi kompleks dari faktor genetik, psikologis, dan lingkungan.

Gejala Bulimia Nervosa

Gejala Bulimia Nervosa sangat bervariasi dan dapat mencakup beberapa hal berikut:

  1. Binge Eating: Orang dengan bulimia nervosa cenderung mengalami episode makan berlebihan secara tidak terkontrol dalam waktu singkat, biasanya dilakukan secara diam-diam atau rahasia. Selama periode ini, mereka merasa kehilangan kontrol atas jumlah makanan yang dikonsumsi.
  2. Perilaku Kompensasi: Setelah melakukan binge eating, orang dengan bulimia nervosa akan melakukan perilaku kompensasi untuk menghilangkan kalori yang telah dikonsumsi. Salah satu perilaku kompensasi yang umum adalah purging, yaitu memuntahkan kembali makanan yang telah dimakan.
  3. Gangguan Siklus Makan: Orang dengan bulimia nervosa sering mengalami siklus makan yang tidak teratur dan tidak seimbang.
  4. Penurunan berat badan yang ekstrem melalui diet juga dapat menjadi faktor risiko dalam perkembangan bulimia nervosa.
  5. Perubahan fisik: Seseorang yang menderita bulimia nervosa dapat mengalami perubahan fisik yang terlihat seperti penurunan berat badan yang ekstrem, pembengkakan pada wajah dan tangan, gigi rusak dan kerusakan pada gusi akibat dari muntah secara berulang.
  6. Ketidaknyamanan dan gangguan pada saluran pencernaan seperti mulas, sembelit, atau diare juga dapat munculkan pada individu yang menderita bulimia nervosa.

Diagnosis Bulimia Nervosa

Untuk mendiagnosis bulimia nervosa, seorang profesional medis akan menggunakan beberapa kriteria yang telah ditetapkan oleh Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. Beberapa kriteria yang biasa digunakan untuk diagnosis bulimia nervosa meliputi:

  1. Episode Binge Eating: Pasien harus mengalami episode binge eating secara teratur dalam jangka waktu tertentu, biasanya setidaknya sekali seminggu selama tiga bulan.
  2. Perilaku Kompensasi: Pasien juga harus melakukan perilaku kompensasi seperti muntah, penggunaan pil diet atau pencahar secara berlebihan, ataupun olahraga ekstrem setelah mengalami episode binge eating.
  3. Gangguan Persepsi Tubuh: Pasien harus memiliki kekhawatiran yang berlebihan terkait dengan bentuk tubuh dan berat badan mereka, serta memiliki rasa tidak puas yang kuat terhadap ketika itu.

Peran psikolog dalam perawatan bulimia nervosa adalah untuk membantu individu mengenali, memahami, dan mengatasi faktor-faktor psikologis yang berhubungan dengan bulimia nervosa.

Komplikasi Bulimia Nervosa

Komplikasi Bulimia Nervosa meliputi dampak fisik, psikologis, dan sosial yang dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat bulimia nervosa adalah sebagai berikut:

  1. Gangguan Elektrolit: Muntah berulang setelah binge eating dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh, seperti rendahnya kadar kalium atau natrium. Hal ini dapat mengganggu fungsi jantung dan ginj dan dapat menjadi potensi ancaman bagi kehidupan individu.
  2. Kerusakan Gigi dan Gusi: Muntah secara berulang dapat menyebabkan erosi email gigi, kerusakan gusi, dan bahkan kerusakan gigi.
  3. Gangguan Pencernaan: Bulimia nervosa dapat menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan seperti mulas, sembelit, atau diare.
  4. Gangguan Siklus Menstruasi: Meskipun amenore yang signifikan jarang terjadi pada bulimia nervosa, tetapi perempuan dengan bulimia nervosa sering mengalami ketidakaturan menstruasi.
  5. Ruptur Esophagus atau Dilatasi Lambung: Bulimia nervosa juga dapat menyebabkan kerusakan serius pada organ pencernaan seperti ruptur esofagus atau dilatasi lambung.
  6. Gangguan Mood dan Kecemasan: Bulimia nervosa dapat menyebabkan peningkatan risiko mengembangkan gangguan mood dan kecemasan seperti depresi, kecemasan, dan gangguan kepribadian.
  7. Dampak Sosial: Bulimia nervosa juga dapat memiliki dampak sosial yang signifikan pada individu.
  8. Gangguan Hubungan: Bulimia nervosa dapat menyebabkan gangguan hubungan interpersonal, isolasi sosial, dan masalah dalam menjalin dan mempertahankan hubungan yang sehat.
  9. Penyakit-penyakit lain: Individu dengan bulimia nervosa memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan penyakit fisik dan psikiatrik lainnya, termasuk penyalahgunaan zat.

Pengobatan Bulimia Nervosa

Terapi merupakan salah satu metode pengobatan utama untuk bulimia nervosa. Terdapat beberapa jenis terapi yang efektif dalam mengatasi gangguan ini, termasuk terapi kognitif perilaku, terapi interpersonal, dan terapi kelompok.

Terapi kognitif perilaku membantu individu mengidentifikasi pola pikir yang tidak sehat tentang makanan, berat badan, dan citra tubuh mereka sendiri. Dalam sesi-sesi ini, psikolog akan bekerja sama dengan pasien untuk menggantikan pola pikir yang negatif dengan pandangan yang lebih realistis dan positif.

Terapi interpersonal bertujuan untuk memperbaiki hubungan sosial dan interpersonal individu dengan orang-orang di sekitarnya. Dalam terapi ini, individu belajar untuk membangun hubungan yang sehat dan mengatasi masalah komunikasi atau konflik yang berkontribusi pada perkembangan bulimia nervosa.

Terapi kelompok melibatkan individu dalam sesi terapi bersama dengan orang lain yang juga mengalami bulimia nervosa. Dalam terapi kelompok, individu dapat mendapatkan dukungan dari sesama yang mengalami kondisi serupa dan belajar strategi untuk mengatasi perubahan pola makan yang tidak sehat.

Pencegahan Bulimia Nervosa

Pencegahan bulimia nervosa adalah penting untuk mengurangi risiko terjadinya gangguan makan ini. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah bulimia nervosa antara lain:

  1. Meningkatkan kesadaran tentang tubuh dan citra tubuh yang sehat: Penting bagi individu untuk memiliki pemahaman yang baik tentang keberagaman bentuk tubuh dan nilai-nilai positif dari berbagai jenis tubuh.
  2. Memperkuat pola makan sehat: Menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang dapat membantu mencegah kecenderungan untuk berlebihan atau membatasi makan.
  3. Menghindari stres yang berlebihan: Menjaga keseimbangan emocional dan mengatasi stres dengan cara sehat dapat membantu mencegah munculnya bulimia nervosa.
  4. Menghindari tekanan sosial dan budaya yang mempromosikan citra tubuh yang tidak realistis: Mengenali perasaan diri dan tidak membandingkan diri dengan gambar tubuh yang tidak realistis atau idealis dapat membantu mencegah terjadinya bulimia nervosa.
  5. Meningkatkan keterampilan coping: Belajar cara menghadapi tekanan dan emosi secara sehat, seperti dengan olahraga, bermeditasi, atau menulis jurnal, dapat membantu mencegah penggunaan perilaku makan yang tidak sehat untuk mengatasi stres atau emosi negatif.