Hepatitis B – Definisi, Penyebab, Gejala, Diagnosis, Komplikasi, Pencegahan & Pengobatan

 

Hepatitis B
Sumber: sexualhealth.gov.mt

Pengertian Hepatitis B

Hepatitis B ialah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis B. Virus ini menyerang hati dan mengakibatkan peradangan pada organ tersebut. Sifatnya termasuk dalam keluarga virus Hepadnaviridae serta merupakan salah satu varietas hepatitis yang sering dijumpai secara global.

Penyebaran virus Hepatitis B bisa terjadi melalui sentuhan darah atau cairan tubuh dengan orang yang telah terinfeksi HBV, seperti melalui hubungan seksual tanpa pengaman, berbagi alat suntik dengan orang yang terinfeksi, atau dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya saat melahirkan (Nadia & Anggina, 2021).

Penyebab & Faktor Risiko Hepatitis B

Hepatitis B disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis B. Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terinfeksi HBV. Faktor-faktor ini meliputi:

  1. Kontak dengan darah atau cairan tubuh yang terinfeksi: Penularan Virus Hepatitis B dapat terjadi melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh yang mengandung virus HBV. Hal ini bisa terjadi jika kita berbagi jarum suntik, menjalatindakan medis yang melibatkan transfusi darah, atau memiliki hubungan seksual tanpa pengaman dengan orang yang terinfeksi HBV.
  2. Risiko penularan perinatal: Penularan virus Hepatitis B dapat terjadi dari ibu yang terinfeksi kepada bayi yang merupakan faktor risiko tertinggi (Nadia & Anggina, 2021).
  3. Koinfeksi HIV-HBV: Orang yang terinfeksi HIV memiliki risiko enam kali lebih tinggi untuk terinfeksi HBV dibandingkan dengan orang yang tidak terinfeksi HIV (Naully & Romlah, 2019).
  4. Pekerjaan yang melibatkan paparan terhadap darah: Orang yang bekerja di bidang kesehatan atau industri yang berhubungan dengan darah, seperti petugas medis atau pekerja di laboratorium, memiliki risiko lebih tinggi terkena hepatitis B karena rentan terpapar darah yang terinfeksi.
  5. Umur: Orang yang lebih muda memiliki risiko penularan hepatitis B yang lebih tinggi karena sistem kekebalan tubuh mereka belum sepenuhnya terbentuk dan rentan terhadap infeksi.
  6. Pendidikan: Orang yang memiliki tingkat pendidikan rendah atau kurang pengetahuan tentang penyakit ini cenderung memiliki risiko yang lebih tinggi terinfeksi hepatitis B karena kurangnya pemahaman tentang cara penularan dan tindakan pencegahan yang efektif.

Gejala Hepatitis B

Gejala Hepatitis B dapat bervariasi dari ringan hingga parah, bahkan ada beberapa kasus yang tidak menampakkan gejala sama sekali. Beberapa gejala umum yang seringkali dimiliki oleh penderita hepatitis B antara lain:

  1. Kelelahan dan kehilangan nafsu makan: Penderitanya akan merasa lelah secara berlebihan dan mengalami penurunan nafsu makan.
  2. Rasa nyeri pada area abdomen: Pada tahap awal penyakit, penderita dapat merasakan rasa nyeri atau ketidaknyamanan di area perut mereka.
  3. Mual dan muntah: Penderita hepatitis B sering mengalami mual dan muntah sebagai gejala awal dari penyakit ini.
  4. Kulit dan mata yang kuning (jaundice): Salah satu gejala yang paling khas dari hepatitis B adalah perubahan kuning pada kulit dan mata, yang disebut jaundice.

Diagnosis Hepatitis B

Diagnosis Hepatitis B dapat dilakukan dengan beberapa metode berikut:

  1. Tes darah: Dokter akan melakukan tes darah untuk mengecek adanya antigen dan antibodi hepatitis B dalam tubuh. Tes ini meliputi tes HBsAg untuk mengidentifikasi virus hepatitis B, tes anti-HBs untuk memeriksa keberadaan antibodi terhadap virus, serta tes HBeAg dan anti-HBe untuk mengevaluasi tingkat aktivitas infeksi.
  2. Pemeriksaan fungsi hati: Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan fungsi hati untuk melihat adanya perubahan atau kerusakan pada hati akibat infeksi hepatitis B. Pemeriksaan fungsi hati meliputi tes enzim hati seperti AST (aspartat aminotransferase) dan ALT (alanin aminotransferase).
  3. Biopsi hati: Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang kondisi hati penderita hepatitis B, dokter dapat melakukan biopsi hati.

Komplikasi Hepatitis B

Komplikasi hepatitis B dapat menjadi sangat serius dan berpotensi mengancam nyawa. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi akibat infeksi Hepatitis B meliputi:

  1. Sirosis hati: Infeksi kronis hepatitis B dapat menyebabkan peradangan yang berkelanjutan pada hati, yang akhirnya mengakibatkan penggantian jaringan hati normal dengan jaringan parut (fibrosis) dan merusak fungsi hati secara bertahap.
  2. Karsinoma hepatoselular: Hepatitis B kronis juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker hati.
  3. Gagal hati: Dalam beberapa kasus, hepatitis B kronis dapat menyebabkan kerusakan hati yang parah dan akhirnya menyebabkan gagal hati.

Pengobatan Hepatitis B

Pengobatan Hepatitis B terdiri dari beberapa pendekatan untuk mengelola dan merawat penyakit ini. Tujuan utama dari pengobatan Hepatitis B adalah untuk mengurangi peradangan dalam hati, mempertahankan fungsi hati yang baik, dan mencegah perkembangan komplikasi serius seperti sirosis atau kanker hati.

Salah satu metode pengobatan yang umum digunakan adalah obat antivirus seperti lamivudine, entecavir, tenofovir disoproxil fumarate, dan adefovir dipivoxil. 

Terdapat obat-obatan antiviral tertentu yang dapat diberikan oleh dokter untuk menekan replikasi virus Hepatitis B dalam tubuh dan menghentikan perkembangan infeksi. Selain terapi antivirus, perubahan gaya hidup juga dapat membantu mengelola hepatitis B. 

Menghindari alkohol dan narkoba yang dapat memperburuk kerusakan hati, menjaga pola makan yang sehat dan bergizi, serta menghindari kontak seksual yang tidak aman atau berbagi jarum suntik dengan orang lain dapat membantu mengurangi risiko penyebaran hepatitis B dan melindungi kesehatan hati.

Pencegahan Hepatitis B

Pencegahan Hepatitis B sangat penting untuk mengurangi risiko infeksi dan penyebaran virus. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil untuk mencegah hepatitis B

  1. Vaksinasi: Vaksin hepatitis B adalah cara paling efektif untuk mencegah infeksi ini. Semua bayi seharusnya divaksinasi secara rutin sesuai dengan jadwal imunisasi yang direkomendasikan oleh dokter.
  2. Menjaga kebersihan: Penting untuk menjaga kebersihan diri dengan mencuci tangan secara rutin menggunakan sabun dan air bersih.
  3. Menghindari kontak dengan darah dan cairan tubuh terinfeksi: Hindari menggunakan jarum suntik yang tidak steril atau berbagi jarum suntik dengan orang lain.
  4. Praktik seks yang aman: Menggunakan kondom dalam setiap hubungan seksual dapat membantu mencegah penyeyebaran hepatitis B.
  5. Menggunakan alat medis steril: Pastikan bahwa semua peralatan medis yang digunakan oleh tenaga medis adalah steril dan tidak terkontaminasi dengan virus hepatitis B.

Perbedaan Hepatitis B, A, dan C

click here


Referensi

Nadia, F., & Anggina, D. N.. (2021, April 30). Analisis Penyebab Hepatitis B Ibu Hamil (Study Phenomenology) di Wilayah Puskesmas  Perhentian Raja Kabupaten Kampar. https://scite.ai/reports/10.35328/kebidanan.v10i1.1561

Naully, P. G., & Romlah, S.. (2019, September 13). Deteksi Gen sHBsAg sebagai Penanda Koinfeksi Hepatitis B  pada Pengidap HIV. https://scite.ai/reports/10.26630/jk.v10i2.1381