Konstipasi (Sembelit) – Definisi, Penyebab, Gejala, Diagnosis, Komplikasi, Pencegahan & Pengobatan

 


Sembelit
Sumber: vinmec.com


Pengertian Sembelit (Konstipasi)

Sembelit, atau yang juga dikenal dengan istilah konstipasi, adalah gangguan pada sistem pencernaan di mana seseorang mengalami kesulitan atau jarang buang air besar. Hal ini terjadi ketika feses (tinja) sulit bergerak melalui usus dan keluar dari tubuh. Sembelit sering ditandai oleh tinja yang keras, kering, serta perasaan tidak puas saat selesai buang air besar.

Penyebab & Faktor Risiko Sembelit (Konstipasi)

Berbagai faktor dapat menyebabkan sembelit, di antaranya:

  1. Kurangnya serat dalam makanan: Serat sangat penting untuk mempercepat gerakan feses melalui usus. Ketika tubuh kekurangan serat, tinja menjadi keras dan sulit dikeluarkan.
  2. Kurangnya asupan air: Air merupakan zat pelumas alami bagi feses, sehingga ketika kekurangan air, tinja bisa menjadi kering dan sulit lewat.
  3. Kurang aktif secara fisik: Aktivitas fisik yang kurang dapat menghambat pergerakan usus dan menyebabkan sembelit.
  4. Efek samping obat: Beberapa obat seperti antidepresan, diuretik, dan opioid dapat menyebabkan sembelit sebagai efek sampingnya.

Gejala Sembelit (Konstipasi)

Berikut adalah beberapa gejala yang dapat muncul pada seseorang yang mengalami sembelit atau konstipasi:

  1. Buang air besar jarang: Jika Anda buang air besar kurang dari tiga kali dalam seminggu, itu bisa menjadi tanda sembelit.
  2. Tinja keras dan sulit dikeluarkan: Tinja yang keras dan kering saat buang air besar adalah salah satu tanda utama sembelit.
  3. Perasaan tidak puas setelah buang air besar: Setelah buang air besar, seseorang yang mengalami sembelit mungkin masih merasa bahwa ada tinja yang tersisa atau masih merasa tidak puas.
  4. Nyeri perut atau kram: Sembelit dapat menyebabkan nyeri perut atau kram yang terjadi secara periodik.
  5. Perdarahan saat buang air besar: Pada beberapa kasus, sembelit yang parah dapat menyebabkan perdarahan saat buang air besar atau adanya darah pada feses.

Diagnosis Sembelit (Konstipasi)

Diagnosis sembelit atau konstipasi biasanya didasarkan pada gejala yang dialami oleh pasien. Dokter akan melakukan wawancara medis untuk mengetahui frekuensi buang air besar, konsistensi tinja, dan adanya gejala lain seperti nyeri perut atau darah pada feses. Selain itu, dokter juga mungkin melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari tanda-tanda lain yang dapat mengindikasikan penyebab sembelit

Jika diperlukan, dokter dapat melakukan tes tambahan seperti tes darah untuk memeriksa fungsi tiroid atau kondisi medis lain yang dapat menyebabkan sembelit. Dalam beberapa kasus yang langka, dokter juga dapat merekomendasikan pemeriksaan kolonoskopi untuk melihat keadaan secara langsung di dalam usus besar.

Komplikasi Sembelit (Konstipasi)

Komplikasi sembelit atau konstipasi adalah ketika kondisi sembelit tidak diatasi dengan baik dan berlanjut dalam jangka waktu yang panjang. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat sembelit adalah

  1. Hemoroid: Sembelit kronis dapat menyebabkan tekanan pada pembuluh darah di sekitar anus, sehingga menyebabkan munculnya hemoroid atau wasir.
  2. Fekaloma: Jika tinja yang terlalu keras menumpuk dan tidak dikeluarkan, hal ini dapat menyebabkan terbentuknya fekaloma atau massa tinja yang keras di dalam usus besar.
  3. Retensi feses: Sembelit yang tidak diobati dapat menyebabkan retensi feses, di mana tinja tertahan di dalam usus dan sulit dikeluarkan.

Pengobatan Sembelit (Konstipasi)

Terapi pertama yang direkomendasikan untuk pengobatan sembelit adalah perubahan gaya hidup dan pola makan. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan meliputi:

  1. Meningkatkan asupan serat: Mengkonsumsi makanan tinggi serat, seperti buah-buahan, sayuran, sereal gandum utuh, dan kacang-kacangan dapat membantu mengatasi sembelit.
  2. Minum cukup air: Memastikan tubuh terhidrasi dengan baik sangat penting untuk menjaga kelembapan tinja.
  3. Berolahraga secara teratur: Aktivitas fisik dapat merangsang pergerakan usus dan membantu melancarkan sistem pencernaan.
  4. Menghindari penundaan buang air besar: Merespons keinginan untuk buang air besar segera dan tidak menunda-undanya dapat membantu mencegah sembelit.
  5. Menggunakan suplemen serat: Jika asupan serat dari makanan tidak mencukupi, dokter dapat merekomendasikan penggunaan suplemen serat untuk membantu melancarkan buang air besar.
  6. Melakukan perubahan gaya hidup dan pola makan yang sehat dapat membantu mengatasi sembelit secara efektif dan mengurangi risiko komplikasi yang mungkin terjadi.
  7. Menggunakan pencahar: Jika Anda mengalami konstipasi yang tidak kunjung membaik, mungkin akan dianjurkan oleh dokter untuk menggunakan pencahar.

Beberapa jenis pencahar adalah osmotik (seperti laktulosa), stimulan (seperti bisakodil), emolien (minyak mineral), atau zelatin seperti PEG-3350. Masing-masing memiliki mekanisme kerja yang berbeda namun tujuannya sama yaitu meningkatkan frekuensi buang air besar dan melonggarkan tinja agar lebih mudah keluar tanpa tekanan.

Pencegahan Sembelit (Konstipasi)

Ada beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan untuk mencegah sembelit atau konstipasi. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan asupan serat: Konsumsi makanan tinggi serat seperti buah-buahan, sayuran, sereal gandum utuh, dan kacang-kacangan dapat membantu melancarkan sistem pencernaan dan menjaga konsistensi tinja.
  2. Minum cukup air: Pastikan tubuh tetap terhidrasi dengan baik dengan mengonsumsi setidaknya 8 gelas air per hari.
  3. Menghindari penundaan buang air besar: Merespons keinginan untuk buang air besar segera dan tidak menunda-undanya dapat mencegah perkembangan sembelit.
  4. Berolahraga secara teratur: Aktivitas fisik dapat merangsang pergerakan usus dan membantu menjaga kelancaran sistim pencernaan.
  5. Menggunakan suplemen serat: Jika asupan serat dari makanan tidak mencukupi, dokter dapat merekomendasikan penggunaan suplemen serat untuk membantu melancarkan buang air besar.
  6. Menerapkan perubahan gaya hidup dan pola makan yang sehat: Memiliki rutinitas makan teratur dengan mengonsumsi makanan yang seimbang dan teratur serta menghindari makanan olahan dan tinggi lemak dapat membantu mengatasi sembelit secara efektif dan mengurangi risiko komplikasi yang mungkin terjadi.
  7. Menggunakan pencahar: Jika semua langkah pencegahan di atas tidak efektif, dokter dapat memberikan rekomendasi untuk menggunakan pencahar.