Polisitemia – Definisi, Penyebab, Gejala, Diagnosis, Komplikasi, Pencegahan & Pengobatan

 

Polisitemia
Sumber: msn.com

Pengertian Polisitemia

Polisitemia adalah kondisi medis yang ditandai dengan peningkatan jumlah sel darah merah dalam tubuh. Biasanya, polisitemia terjadi ketika sumsum tulang memproduksi terlalu banyak sel darah merah atau ketika ada perubahan pada tingkat produksi hormon seperti eritropoietin yang mengatur pembentukan sel darah merah.

Jenis-Jenis Polisitemia

Terdapat dua jenis polisitemia, yaitu polisitemia vera dan polisitemia sekunder. Polisitemia vera adalah kondisi di mana sumsum tulang menghasilkan terlalu banyak sel-sel darah merah tanpa adanya stimulus yang normal untuk produksinya.

Sedangkan, polisitemia sekunder terjadi sebagai respons terhadap kondisi lain dalam tubuh seperti peningkatan produksi eritropoietin akibat penyakit atau penggunaan obat-obatan tertentu seperti ineksi eritropoietin atau hormon steroid anabolik (Cahyanur & Rinaldi, 2019).

Polisitemia vera merupakan penyakit langka yang lebih sering menyerang orang dewasa usia lanjut. Gejalanya meliputi kelelahan kronik, pusing-pusing, sakit kepala parah, pembesaran limpa dan hati serta masalah pada sistem peredaran darah seperti trombosis vena atau emboli pulmonal.

Pengobatan untuk polisitemia vera biasanya dilakukan dengan pengurangan volume sel-sel darah melalui pemotongan atau jarum ukur (flebotomi).

Polisitemia sekunder, di sisi lain, membutuhkan penanganan terhadap penyebab yang mendasarinya untuk mengobati kondisi ini secara efektif.

Penyebab & Faktor Risiko Polisitemia

Penyebab polisitemia vera adalah kelainan genetik yang menyebabkan sumsum tulang memproduksi terlalu banyak sel darah merah. Namun, penyebab pastinya masih belum diketahui dengan jelas. Risiko memiliki polisitemia vera dapat meningkat jika ada riwayat keluarga yang menderita polisitemia atau neoplasma mieloproliferatif seperti leukemia mieloid kronik.

Sementara itu, pemicu utama untuk polisitemia sekunder meliputi pemberian suntikan eritropoietin atau hormon steroid anabolik yang dapat mempengaruhi produksi sel darah merah. Selain itu, faktor risiko polisitemia juga dapat dipengaruhi oleh adanya riwayat keluarga dengan polisitemia vera atau neoplasia mieloproliferatif serta kondisi seperti dehidrasi, hipoksia kronis, dan pengaruh penyakit hati (Cahyanur & Rinaldi, 2019).

Gejala Polisitemia

Gejala polisitemia vera meliputi kelelahan kronik, pusing-pusing, sakit kepala parah, pembesaran limpa dan hati serta masalah pada sistem peredaran darah seperti trombosis vena atau emboli pulmonal. 

Pada polisitemia sekunder, gejalanya dapat bervariasi tergantung pada penyebabnya. Beberapa gejala yang dapat muncul adalah kelelahan, sesak napas saat beraktivitas fisik ringan, kulit kemerahan atau menggelap, sakit kepala, dan pembesaran organ seperti limpa atau hati.

Diagnosis Polisitemia

Diagnosis Polisitemia dapat dilakukan melalui berbagai metode dan pemeriksaan. Langkah pertama dalam diagnosa polisitemia adalah melakukan anamnesis dan riwayat kesehatan pasien, termasuk mencari tahu adanya riwayat keluarga yang menderita polisitemia vera atau neoplasia mieloproliferatif. 

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari tanda-tanda gejala seperti pembesaran limpa dan hati serta perubahan pada kulit. Setelah itu, pemeriksaan laboratorium akan dilakukan untuk mengukur kadar hemoglobin, hematokrit, dan jumlah sel darah merah dalam darah.

Komplikasi Polisitemia

Komplikasi polisitemia dapat mencakup beberapa hal, seperti trombosis vena dan emboli pulmonal. Hal ini terjadi karena peningkatan jumlah sel darah merah yang membuat darah lebih kental dan sulit mengalir melalui pembuluh darah kecil. 

Hasilnya, ini meningkatkan risiko pembekuan darah di dalam pembuluh darah (trombosis) atau pelepasan gumpalan darah (emboli) yang dapat menyebabkan kerusakan organ atau berpotensi mengancam jiwa.

Pengobatan Polisitemia

Untuk mengatasi polisitemia, penanganan harus dilakukan secara tepat guna mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi dan meningkatkan tingkat kualitas hidup individu yang sedang mengalaminya. Pendekatan pengobatan untuk polisitemia dapat melibatkan beberapa metode seperti:

  1. Drainase Vena: Metode ini bertujuan untuk mengurangi kelebihan volume darah dengan cara membuang sebagian darah melalui jarum yang dimasukkan ke dalam vena. Hal ini dilakukan secara teratuntuk memperbaiki kondisi hematokrit dan mengurangi kelebihan sel darah merah.
  2. Pemberian obat-obatan: Dokter dapat meresepkan obat seperti aspirin, yang bertujuan untuk mengurangi risiko pembekuan darah dalam tubuh.
  3. Terapi dengan eritropoietin sintetik: Dalam beberapa kasus, terapi dengan eritropoietin sintetik dapat digunakan untuk meningkatkan produksi sel darah merah dan mengurangi gejala polisitemia.
  4. Terapi phlebotomy: Phlebotomy adalah prosedur pengambilan sampel darah yang dilakukan secara teratur untuk mengurangi jumlah sel darah merah dalam tubuh.
  5. Transfusi darah: Pada kasus-kasus yang parah, dimana polisitemia telah menyebabkan gejala anemia, transfusi darah mungkin diperlukan untuk meningkatkan kadar hemoglobin dan membantu mengatasi gejala anemia yang mungkin terkait dengan polisitemia.
  6. Terapi radiasi: Terapi radiasi dapat digunakan dalam kasus polisitemia sekunder sebagai pengobatan adjuvan setelah pengobatan utama diberikan.
  7. Terapi antibiotik: Jika polisitemia disebabkan oleh infeksi kronis, pemberian antibiotik dapat membantu mengobati infeksi dan mengurangi gejala polisitemia.
  8. Transplantasi sel punca tulang belakang: Pada kasus polisitemia vera yang parah, terapi ini mungkin dicoba sebagai pilihan terakhir.
  9. Terapi farmakologis: Beberapa obat dapat digunakan untuk mengelola polisitemia vera, seperti hidroksiurea atau interferon alfa.

Pencegahan Polisitemia

Pencegahan untuk polisitemia sebagian besar terfokus pada mencegah kondisi yang dapat menjadi penyebab sekunder dari polisitemia, seperti penyakit paru-paru kronik atau sindrom obstruktif sleep apnea. Pencegahan juga meliputi identifikasi dini dan penanganan tepat serta mengelola faktor risiko yang berhubungan dengan polisitemia vera.

Untuk mencegah polisitemia vera, ada beberapa langkah pencegahan yang dapat diambil:

  1. Self-pemeriksaan untuk mencegah polisitemia vera, langkah pencegahan yang dapat diambil termasuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan mengikuti anjuran dokter untuk menjaga kesehatan yang baik.
  2. Menghindari penggunaan obat-obatan yang dapat menyebabkan polisitemia sekunder atau mengikuti dosis dan aturan penggunaan yang tepat jika memang harus menggunakan obat-obatan tersebut.
  3. Menghindari paparan terhadap zat-zat beracun seperti asap rokok atau bahan kimia yang dapat meningkatkan risiko polisitemia vera.
  4. Menjaga gaya hidup yang sehat, termasuk menjaga berat badan yang sehat, mengonsumsi makanan yang seimbang dan bergizi, berolahraga secara teratur, menghindari stres berlebihan, serta mematuuhi kebersihan dan kebersihan tubuh.
  5. Rajin melakukan pemeriksaan kesehatan serta memeriksakan keluarga untuk mengetahui riwayat polisitemia vera atau penyakit darah lainnya yang dapat menjadi faktor risiko.

 

Referensi

Cahyanur, R., & Rinaldi, I.. (2019, October 1). Pendekatan Klinis Polisitemia. https://scite.ai/reports/10.7454/jpdi.v6i3.349