Demam Tifoid (Typhoid Fever) – Definisi, Penyebab, Gejala, Diagnosis, Komplikasi, Pencegahan & Pengobatan

 

Demam Tifoid
Sumber: infection.az

Pengertian Demam Tifoid

Demam Tifoid atau Typhoid Fever adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Penyakit ini umumnya ditemukan di daerah-daerah tertentu di dunia seperti Timur Tengah, Afrika, Amerika Selatan dan Tengah, Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Demam tifoid ditularkan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh kotoran manusia yang mengandung bakteri S. typhi.

Penyebab & Faktor Risiko Demam Tifoid

Demam Tifoid dipicu oleh bakteri Salmonella typhi. Bakteri ini dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh kotoran manusia yang mengandung bakteri S. typhi. Beberapa faktor risiko untuk demam tifoid adalah

  1. Kurangnya sanitasi: Penyebaran bakteri S. typhi sangat sering terjadi di daerah dengan kurangnya fasilitas sanitasi yang memadai, seperti air bersih dan sistem peangan air yang baik.
  2. Kondisi air yang tidak aman: Demam tifoid dan demam paratifoid sering kali terkait dengan konsumsi air dan makanan yang tidak aman.
  3. Perubahan lingkungan: Kondisi seperti adanya perairan, banjir, curah hujan, dan suhu.
  4. Kurangnya kesadaran akan kebersihan pribadi, seperti mencuci tangan sebelum makan atau setelah buang air besar.
  5. Paparan dengan individu yang telah terinfeksi: Demam tifoid dapat menyebar melalui kontak langsung dengan seseorang yang telah terinfeksi dan menjadi pembawa bakteri S. typhi.
  6. Perjalanan ke daerah dengan tingkat penyebaran demam tifoid yang tinggi.
  7. Pengaruh genetik: Beberapa individu mungkin memiliki predisposisi genetik yang membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi bakteri Salmonella typhi.
  8. Penyalahgunaan obat antibiotik: Penggunaan yang tidak tepat atau berlebihan dari antibiotik dapat mengurangi efektivitasnya dalam melawan infeksi bakteri Salmonella typhi.
  9. Tingkat kekebalan yang rendah: Individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah atau menurun berisiko lebih tinggi terinfeksi demam tifoid.
  10. Pola makan yang buruk: Konsumsi makanan yang tidak sehat atau tidak higienis juga dapat meningkatkan risiko terkena demam tifoid.
  11. Riwayat sejarah penyakit: Orang yang pernah terkena demam tifoid memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami infeksi kembali.
  12. Pandemi penyakit seperti demam tifoid dan demam paratifoid merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan dan dapat menyebabkan dampak yang serius terhadap kesehatan individu dan masyarakat.

Gejala Demam Tifoid

Gejala demam tifoid dapat bervariasi, tetapi gejala utama yang umum ditemukan adalah demam tinggi yang berlangsung selama beberapa minggu. Selain itu, orang dengan demam tifoid juga mungkin mengalami:

  1. Kelelahan dan kelemahan ekstrem.
  2. Rasa tidak nyaman pada bagian perut atau kejang-kejang di area perut. 
  3. Hilangnya nafsu makan. 
  4. Kehilangan berat badan yang tidak diinginkan. 
  5. Sakit kepala intens dan nyeri otot.

Komplikasi Demam Tifoid

Komplikasi Demam Tifoid dapat timbul jika penyakit tidak segera ditangani dengan baik. Beberapa komplikasi yang bisa terjadi antara lain:

  1. Perforasi usus: Infeksi parah akibat demam tifoid dapat menyebabkan perforasi atau robeknya dinding usus, sehingga bakteri dapat keluar dan menyebabkan peritonitis.
  2. Perdarahan pencernaan: Peradangan pada saluran pencernaan akibat demam tifoid juga bisa menyebabkan pendarahan pencernaan.
  3. Penyebaran infeksi ke organ lain: Terkadang bakteri Salmonella typhi dapat menyebar ke organ lain seperti hati, jantung, atau otak dan menyebabkan komplikasi yang serius.
  4. Sepsis: Jika infeksi tidak diobati dengan tepat, bakteri mampu menyebar ke seluruh tubuh melalui sirkulasi darah dan menyebabkan sepsis, yang merupakan kondisi serius dan mengancam jiwa.

Pengobatan Demam Tifoid

Pengobatan demam tifoid terdiri dari penggunaan antibiotik untuk membunuh bakteri Salmonella typhi yang menyebabkan penyakit ini. Antibiotik yang biasanya digunakan dalam pengobatan demam tifoid termasuk kloramfenikol, trimetoprim-sulfametoksazol, ceftriaxone, dan azitromisin. Namun, penting untuk diketahui bahwa resistensi terhadap beberapa antibiotik telah dilaporkan pada bakteri Salmonella typhi. Oleh karena itu, pemilihan antibiotik harus didasarkan pada sensitivitas bakteri terhadap obat tersebut.

Pencegahan Demam Tifoid

Pencegahan Demam Tifoid sangat penting untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit ini. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi demam tifoid antara lain:

  1. Menjaga Higienitas: Tingkatkan praktik kebersihan pribadi dan lingkungan sekitar Anda.
  2. Menghindari Konsumsi Makanan dan Minuman Terkontaminasi: Hindari makanan atau minuman yang diketahui terkontaminasi oleh bakteri Salmonella typhi.
  3. Vaksinasi: Vaksin demam tifoid tersedia dan dapat diberikan kepada individu yang berisiko tinggi terhadap penyakit ini, seperti mereka yang tinggal di daerah endemis atau akan melakukan perjalanan ke daerah dengan risiko tinggi.
  4. Menghindari Tempat yang Terkontaminasi: Hindari tempat atau area yang terkontaminasi dengan tinja manusia, seperti jamban umum yang tidak higienis.
  5. Mengikuti pedoman sanitasi: Pastikan bahwa air minum dan sanitasi yang digunakan adalah aman dan terjaga kebersihanannya.