Difteri – Definisi, Penyebab, Gejala, Diagnosis, Komplikasi, Pencegahan & Pengobatan

 

Difteri
Sumber: istockphoto.com

Pengertian Difteri

Difteri adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penyakit ini ditandai dengan adanya pembentukan lapisan tebal berwarna abu-abu pada tenggorokan dan amandel, yang dapat menyebabkan kesulitan dalam bernapas. Difteri umumnya menyebar melalui percikan droplet saat batuk atau bersin.

Pada tahap awal, gejala difteri mirip dengan flu biasa, seperti demam ringan, sakit tenggorokan, dan kelelahan.

Penyebab & Faktor Risiko Difteri

Difteri terjadi akibat infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae.Bakteri ini menyebar melalui percikan droplet saat batuk atau bersin dari orang yang terinfeksi. Faktor risiko untuk terkena difteri termasuk tidak divaksinasi atau tidak lengkap vaksinasi difteri, tinggal di daerah dengan sanitasi yang buruk, kontak dengan orang yang memiliki difteri, dan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Gejala Difteri

Ketika seseorang terinfeksi difteri, gejala-gejala berikut dapat muncul:

  1. Demam: Suhu tubuh meningkat di atas 38°C.
  2. Pembentukan pseudomembran: Terjadi pembentukan lapisan tebal berwarna abu-abu pada tenggorokan dan amandel yang sulit lepas dan mudah berdarah saat diangkat.
  3. Pembengkakan pada leher: Leher membengkak akibat peradangan kelenjar getah bening di dalam leher.
  4. Sakit tenggorokan dan kesulitan menelan: Tenggorokan terasa nyeri saat menelan makanan dan minuman, bahkan bisa menyebabkan kesulitan dalam menelan.
  5. Sesak nafas disertai stridor: Penderita difteri dapat mengalami kesulitan bernapas, terutama dengan suara napas yang berat saat inspirasi.

Diagnosis Difteri

Diagnosis difteri dapat dilakukan melalui beberapa langkah berikut:

  1. Pemeriksaan fisik: Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari tanda-tanda dan gejala yang khas dari difteri, seperti pembentukan pseudomembran pada tenggorokan dan amandel, pembengkakan leher, serta kesulitan menelan.
  2. Tes swab tenggorokan: Dokter akan mengambil sampel lendir atau jaringan dari tenggorokan menggunakan cotton swab untuk diperiksa di laboratorium sebagai konfirmasi penyakit difteri.
  3. Tes kultur bakteri: Sampel swab tenggorokan dapat digunakan untuk menumbuhkan dan mengidentifikasi bakteri Corynebacterium diphtheriae yang menyebabkan difteri.

Komplikasi Difteri

Komplikasi yang dapat terjadi pada difteri sangat serius dan berpotensi menyebabkan kematian. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah sebagai berikut:

  1. Penyempitan sistem pernapasan: Dalam kondisi difteri, pseudomembran yang ada di tenggorokan dapat menyebabkan penyempitan saluran pernapasan. Hal ini dapat membuat penderita mengalami kesulitan bernapas hingga masalah pernafasan yang parah.
  2. Peradangan otot jantung: Bakteri Corynebacterium diphtheriae yang menyebabkan difteri juga dapat menyerang otot jantung.
  3. Kelumpuhan otot palatum: Difteri dapat menyebabkan kelumpuhan pada otot palatum, yang merupakan otot di langit-langit mulut.
  4. Peradangan telinga tengah: Infeksi difteri dapat menyebabkan peradangan pada telinga tengah yang dapat menyebabkan gejala seperti nyeri telinga, gangguan pendengaran, dan keluarnya cairan dari telinga.
  5. Peradangan paru-paru: Komplikasi difteri juga dapat menyebabkan peradangan pada paru-paru yang dapat menyebabkan pneumonia atau infeksi paru-paru.

Pengobatan Difteri

Pengobatan difteri biasanya melibatkan penggunaan antibiotik untuk membunuh bakteri penyebab infeksi. Antibiotik yang sering digunakan adalah penisilin atau eritromisin. Selain itu, penderita juga perlu mendapatkan vaksinasi difteri untuk mencegah kemungkinan terjadinya infeksi ulang.

Selain antibiotik, pengobatan difteri juga mencakup penanganan gejala dan komplikasi yang muncul. Pemberian obat penenang bisa diberikan untuk meredakan kesulitan bernapas dan stridor.

Tindakan medis lainnya seperti pemberian antitoksin difteri juga bisa dilakukan untuk melawan efek toksin yang dihasilkan oleh bakteri difteri. Pada kasus difteri, diperlukan pemeriksaan laboratorium untuk mengkonfirmasi penyakit tersebut.

Pencegahan Difteri

Pencegahan difteri adalah langkah-langkah yang penting untuk mencegah penyebaran penyakit ini. Beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Vaksinasi: Vaksin difteri merupakan cara terbaik untuk mencegah penyakit ini. Imunisasi rutin dengan vaksin difteri sangat dianjurkan, terutama pada anak-anak usia 0-5 tahun. Pemberian vaksin difteri biasanya dilakukan dalam bentuk kombinasi dengan van lainnya seperti vaksin tetanus dan pertusis.
  2. Hindari kontak dengan individu yang terinfeksi: Difteri dapat menyebar melalui udara, batuk dari sumber-sumber yang tidak dikenal.
  3. Praktik kebersihan yang baik: Mencuci tangan secara teratur dengan sabun dan air mengurangi risiko penyebar difteri melalui kontak dengan bakteri yang mungkin ada di lingkungan sekitar.
  4. Tingkatkan kebersihan lingkungan: Menjaga kebersihan rumah, sekolah, dan tempat-tempat umum dapat membantu mengurangi risiko penyebaran difteri.
  5. Hindari berbagi barang-barang pribadi seperti sikat gigi, handuk, atau peralatan makan dengan orang yang terinfeksi difteri.
  6. Jauhkan anak-anak dari kerumunan yang penuh dengan individu terinfeksi difteri.
  7. Menggunakan peralatan pelindung diri saat berada di area yang rawan terpapar dengan bakteri difteri, seperti masker dan sarung tangan.
  8. Mengidentifikasi dan mengobati kasus difteri yang ada pada orang lain berisiko tinggi akan menular kepada individu lain.
  9. Mengidentifikasi dan memberikan pengobatan karier kepada individu yang terkena difteri.
  10. Memastikan bahwa setiap individu mengikuti jadwal imunisasi yang direkomendasikan dan mendapatkan dosis lengkap dari vaksin difteri.
  11. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi dan tindakan pencegahan difteri melalui kampanye penyuluhan dan edukasi yang efektif.
  12. Memantau perkembangan epidemi dan melaporkan kasus difteri kepada otoritas kesehatan setempat untuk langkah-langkah penanganan yang tepat dan upaya pengendalian penyakit difteri secara keseluruhan.
  13. Mendukung penelitian dan pengembangan vaksin difteri yang lebih efektif untuk melawan strain bakteri yang resisten terhadap vaksin yang sudah ada.
  14. Mendorong kerjasama antara negara-negara untuk mengatasi masalah difteri secara global dan berbagi informasi untuk mencegah penyebaran penyakit dan merancang strategi pencegahan yang lebih efektif.
  15. Menjamin akses yang adil dan terjangkau terhadap vaksin difteri bagi semua individu, terutama dalam kelompok berisiko tinggi seperti anak-anak dan individu dengan sistem kekebalan yang lemah.
  16. Menggalakkan kampanye kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan difteri melalui imunisasi, pengobatan karier, dan penggunaan alat pelindung diri.