Epilepsi – Definisi, Penyebab, Gejala, Diagnosis, Komplikasi, Pencegahan & Pengobatan

 

Epilepsi
Sumber: myacare.com

Pengertian Epilepsi

Epilepsi adalah suatu kondisi neurologis yang ditandai oleh kejang-kejang yang berulang akibat aktivitas listrik yang tidak normal di otak. Kejang epilepsi dapat terjadi secara tiba-tiba dan tanpa peringatan, dengan gejala yang bervariasi dari orang satu ke orang lainnya. Epilepsi dapat mempengaruhi siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa, dan memiliki dampak yang signifikatif pada kehidupan sehari-hari. Epilepsi dapat menyebabkan gangguan pada aktivitas sehari-hari, seperti mengemudi, bekerja, atau bersekolah, serta dapat mempengaruhi hubungan sosial dan kualitas hidup seseorang.

Gejala Epilepsi

Gejala epilepsi dapat bervariasi dari satu individu ke individu lainnya. Beberapa gejala umum yang terkait dengan epilepsi termasuk kejang, hilang kesadaran, sensasi aneh, gerakan tubuh yang tidak terkendali, serta perubahan emosi dan pikiran. Selain itu, pasien epilepsi juga dapat mengalami gangguan tidur, kesulitan berbicara, dan masalah kognitif.

Penyebab Epilepsi

Penyebab epilepsi bisa bervariasi dan seringkali sulit untuk diidentifikasi secara pasti pada setiap individu.

Namun, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami epilepsi adalah riwayat keluarga dengan epilepsi, trauma kepala yang parah, infeksi otak, gangguan perkembangan otak sejak lahir, dan tumor otak.

Faktor Risiko Epilepsi

Beberapa faktor risiko epilepsi antara lain riwayat keluarga dengan epilepsi, cedera kepala yang pernah dialami, infeksi otak, penyakit genetik, dan masalah perkembangan janin pada masa kehamilan.

Pencegahan Epilepsi

Tidak ada cara pasti untuk mencegah epilepsi, namun beberapa tindakan dapat mengurangi risiko terkena epilepsi, seperti menghindari cedera kepala dan meminimalkan risiko infeksi otak dengan cara menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan diri.

Pengobatan Epilepsi

Terapi pengobatan adalah salah satu aspek penting dalam manajemen epilepsi. Pengobatan epilepsi bertujuan untuk mencegah terjadinya kejang atau mengurangi intensitas kejang yang dialami oleh penderita epilepsi. Terapi pengobatan epilepsi dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obatan, terapi non-farmakologi, serta dalam kasus yang sulit diobati, terapi bedah. Pada umumnya, obat antiepilepsi merupakan terapi utama yang digunakan untuk mencegah kejang pada pasien epilepsi. (Ernawati & Islamiyah, 2021).

Obat antiepilepsi merupakan terapi utama yang digunakan untuk mencegah kejang pada pasien epilepsi. Terdapat beberapa jenis obat antiepilepsi yang digunakan dalam pengobatan epilepsi. Beberapa contoh dari jenis-jenis obat antiepilepsi tersebut adalah phenytoin, carbamazepine, valproate, lamotrigine, dan levetiracetam. Obat antiepilepsi bekerja dengan cara meningkatkan aktivitas dan sintesis neurotransmiter inhibisi GABA (acids) sehingga mengurangi rangsangan listrik di otak yang dapat memicu kejang.

Obat antiepilepsi memiliki efektivitas yang cukup tinggi dalam mengendalikan kejang pada pasien epilepsi. Obat antiepilepsi telah terbukti efektif dalam mengurangi frekwensi kejang pada sebagian besar pasiendengan epilepsi (Ernawati & Islamiyah, 2021).Namun, penting untuk diketahui bahwa tidak semua pasien akan merespons dengan baik terhadap obat antiepilepsi. Sebanyak sepertiga penderita epilepsi mengalami kondisi yang disebut epilepsy refraktoris, yaitu ketika penderita telah mengonsumsi dua atau lebih jenis obat antiepilepsi secara teratur dan adekuat selama 18 bulan, namun tidak mengalami penurunan frekuensi dan durasi kejang (R et al., 2022). Dalam kasus-kasus seperti ini, terapi non-farmakologi seperti diet ketogenik atau terapi bedah dapat dipertertimbangkan sebagai alternatif pengobatan. Terapi non-farmakologi meliputi pendekatan psikososial, terapi perilaku kognitif, dan diet ketogenic dengan pengaturan ketat dari jenis makanan yang dikonsumsi. Terapi bedah juga menjadi pilihan ketika terapi pengobatan lainnya tidak efektif dalam mengendalikan kejang pada pasien epilepsi. Selain itu, kepatuhan dalam penggunaan obat antiepilepsi juga merupakan aspek penting dalam manajemen epilepsi.

Terapi Tambahan untuk Epilepsi

Terapi tambahan sering digunakan jika terapi tunggal tidak bisa mengendalikan kejang dengan efektif. Hal ini dapat terjadi karena beberapa alasan seperti kejang yang sulit diobati atau respons yang tidak memadai terhadap obat antiepilepsi tunggal. Penambahan terapi pada pasien epilepsi dilakukan untuk meningkatkan kontrol kejang dan memperbaiki kualitas hidup pasien. Ada beberapa jenis terapi tambahan yang dapat digunakan untuk mengatasi epilepsi refraktoris. Terapi tambahan yang umum digunakan meliputi:- Politerapi: Menggabungkan dua atau lebih jenis obat antiepilepsi untuk meningkatkan efektivitas dalam mengendalikan kejang- Terapi non-farmakologi: Meliputi diet ketogenik, terapi bedah, serta pendekatan psikososial dan terapi perilaku kognitif. Terapi non-farmakologi seperti diet ketogenik merupakan salah satu terapis tambahan yang dapat digunakan pada pasien epilepsi refraktoris.Diet ketogenik adalah diet khusus yang tinggi lemak dan rendah karbohidrat, dengan tujuan untuk memicu keadaan ketosis dalam tubuh. Keadaan ketosis ini diyakini dapat mengurangi kejang pada pasien epilepsi refraktoris. Dalam diet ketogenik, tubuh mengalami perubahan metabolik yang menghasilkan keton sebagai sumber energi utama. Ketika tubuh berada dalam keadaan ketosis, respons epilepsi terhadap kejang dapat lebih baik.

Dukungan dan Sumber Daya bagi Penderita Epilepsi

Selain pengobatan, penting bagi penderita epilepsi untuk memiliki dukungan dan sumber daya yang memadai.Dukungan psikososial dapat membantu penderita menghadapi tantangan yang terkait dengan kondisi mereka. Dukungan ini dapat berupa kelompok dukungan, konseling individu, dan edukasi tentang epilepsi. Sumber daya penting lainnya adalah organisasi dan komunitas epilepsi yang memberikan informasi, dukungan emosional, dan advokasi bagi penderita epilepsi dan keluarga mereka.

Komplikasi dan Prognosis Epilepsi

Epilepsi dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang memengaruhi kualitas hidup pasien. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi meliputi cedera fisik akibat kejang, gangguan kognitif dan perkembangan, gangguan emosional seperti depresi dan kecemasan, kesulitan dalam berinteraksi sosial, dan gangguan tidur. Penanganan yang tepat dan pengobatan yang adekuat dapat membantu meminimalkan risiko komplikasi ini. Adapun prognosis epilepsi sangat bervariasi antar individu. Faktor yang memengaruhi prognosis epilepsi meliputi tipe dan keparahan kejang, respons terhadap pengobatan, dan adanya faktor penyerta seperti gangguan perkembangan atau cedera otak.

Pentingnya Edukasi dan Kesadaran Epilepsi

Dalam mengatasi epilepsi, edukasi dan kesadaran tentang kondisi ini sangat penting. Edukasi dapat membantu menghilangkan stigma dan memperbaiki pemahaman masyarakat tentang epilepsi. Hal ini dapat membantu penderita epilepsi merasa lebih diterima dan didukung oleh masyarakat, serta memperoleh aksesibilitas terhadap sumber daya dan perawatan yang mereka butuhkan. Selain itu, edukasi juga penting bagi masyarakat luas agar mereka dapat mengenali tanda dan gejala epilepsi dan mengetahui cara yang tepat untuk memberikan bantuan pertama pada seseorang yang sedang mengalami kejang epilepsi.

Penanganan Pertama Epilepsi

Penanganan pertama pada seseorang yang sedang mengalami kejang epilepsi sangat penting untuk mencegah komplikikasi dan memberikan bantuan yang tepat. Jika Anda berada di sekitar seseorang yang mengalami kejang epilepsi, berikut adalah langkah-langkah penanganan yang dapat Anda lakukan:

  1. Tetap tenang dan jaga keamanan orang yang mengalami kejang epilepsi.
  2. Jangan mencoba menahan atau mengganggu gerakan tubuh orang tersebut.
  3. Letakkan sesuatu yang lembut di bawah kepala orang tersebut untuk melindungi dari cedera.
  4. Jaga agar orang tersebut tidak terjatuh dari tempat yang tinggi.
  5. Hindarkan benda tajam atau keras dari sekitarnya.
  6. Lepaskan benda atau pakaian yang dapat menyebabkan sesak napas.
  7. Jangan mencoba memasukkan apapun ke dalam mulut orang tersebut atau mengganjal gigi.
  8. Setelah kejang berhenti, letakkan orang tersebut dalam posisi pemulihan dengan memiringkan kepala mereka ke samping untuk mencegah tersedak jika terjadi muntah.

Penanganan pertama ini dapat membantu mengurangi risiko cedera dan memberikan dukungan yang tepat pada saat kejang berlangsung.

 

Referensi

Ernawati, I., & Islamiyah, W. R.. (2021, December 31). Korelasi Tingkat Kepatuhan Konsumsi Obat Antiepilepsi Menggunakan Kuesioner MGLS (Morisky, Green, Levine Adherence Scale) dengan Frekwensi Kejang Pasien Epilepsi. https://scite.ai/reports/10.24843/jfu.2021.v10.i02.p02

R, Ferdiansyah, R, Ferdiansyah et al. (2022, March 18). Pengaruh Diet Ketogenik terhadap Ketebalan dan Elastisitas Arteri Karotis pada Pasien Epilepsi: A Systematic Review. https://scite.ai/reports/10.20473/amnt.v6i1.2022.112-121