Urtikaria (Biduran) – Definisi, Penyebab, Gejala, Diagnosis, Komplikasi, Pencegahan & Pengobatan

 

Urticaria
Sumber: freepik.com

Pengertian Urtikaria

Urtikaria adalah kondisi kulit yang ditandai dengan munculnya bercak merah yang gatal dan membengkak disertai sensasi terbakar atau panas. Bercak ini biasanya berbentuk seperti benjolan atau cakram, dan dapat muncul secara tiba-tiba dimana saja pada tubuh. Urtikaria juga sering disebut sebagai biduran.

Kondisi ini disebabkan oleh pelepasan histamin dari sel-sel mast di dalam kulit. Histamin adalah zat kimia alami yang berperan dalam proses alergi dan inflamasi.

Penyebab & Faktor Risiko Urtikaria

Urtikaria atau biduran dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk:

  1. Alergi makanan: Makanan tertentu seperti telur, susu sapi, kacang-kacangan, ikan, dan udang dapat menjadi pemicu utama timbulnya urtikaria pada individu yang alergi terhadap makanan tersebut.
  2. Alergi obat-obatan: Beberapa jenis obat seperti antibiotik (misalnya penisilin), aspirin, dan NSAID (nonsteroidal anti-inflammatory drugs) dapat menyebabkan reaksi alergi yang memicu timbulnya urtikaria.
  3. Reaksi alergi terhadap bahan kimia: Paparan terhadap bahan kimia tertentu seperti lateks dapat menyebabkan urtikaria pada individu yang memiliki sensitivitas terhadap bahan tersebut.
  4. Alergi serbuk sari: Serbuk sari dari tanaman, seperti rumput atau pohon, dapat menyebabkan reaksi alergi dan menghasilkan timbulnya urtikaria pada individu yang sensitif terhadap serbuk sari tersebut.
  5. Suhu dan cuaca ekstrem: Perubahan suhu yang drastis atau paparan terhadap cuaca yang ekstrem, seperti panas yang sangat tinggi atau udara dingin yang ekstrim, juga dapat menyebabkan timbulnya urtikaria atau biduran.

Gejala Urtikaria

Gejala utama urtikaria adalah munculnya bercak merah yang gatal dan membengkak pada kulit. Bercak ini biasanya berbentuk seperti benjolan atau cakram, dan dapat muncul secara tiba-tiba dimana saja pada tubuh. Selain itu, gejala lain yang sering terjadi akibat urtikaria termasuk sensasi terbakar atau panas di area yang terkena, serta rasa tidak nyaman.

Beberapa gejala tambahan yang dapat muncul meliputi:

  • Gatal-gatal di daerah yang terkena urtikaria
  • Sensasi terbakar atau panas di area yang terkena urtikaria
  • Kulit yang kemerahan atau bengkak di area yang terkena urtikaria
  • Lebih lanjut, gejala-gejala yang mungkin timbul akibat urtikaria adalah pembengkakan di wajah, bibir, atau kelopak mata yang bisa mengganggu penglihatan dan pernapasan.

Diagnosis Urtikaria

Urtikaria dapat didiagnosis melalui pemeriksaan fisik serta anamnesis yang teliti. Dokter akan memeriksa kulit untuk melihat adanya bercak merah yang gatal dan membengkak, serta menanyakan riwayat keluhan yang dialami pasien. 

Terkadang, dokter juga dapat melakukan tes alergi untuk mengidentifikasi penyebab urtikaria.

Selain itu, dokter juga akan mengevaluasi faktor-faktor risiko tertentu seperti riwayat alergi makanan atau obat-obatan, riwayat paparan bahan kimia, dan lingkungan yang dapat memicu timbulnya urtikaria.

Komplikasi Urtikaria

Komplikasi yang dapat terjadi akibat urtikaria adalah sebagai berikut:

  1. Infeksi sekunder: Garukan yang intens pada daerah kulit yang gatal dapat menyebabkan luka dan kerusakan pada permukaan kulit, sehingga memungkinkan masuknya bakteri atau virus ke dalam tubuh dan mengakibatkan infeksi.
  2. Semburan angioedema: Angioedema merupakan kondisi serupa dengan urtikaria, tetapi gejalanya terjadi di lapisan lebih dalam dari kulit.
  3. Gangguan tidur: Rasa gatal dan ketidaknyamanan yang diakibatkan oleh urtikaria dapat mengganggu tidur pasien, yang dapat berdampak negatif pada kualitas hidupnya.

Pengobatan Urtikaria

Pengobatan urtikaria tergantung pada tingkat keparahan gejala yang dialami oleh pasien. Untuk urtikaria ringan, antihistamin generasi pertama dapat diberikan untuk mengurangi gatal-gatal dan pembengkakan pada kulit. 

Antihistamin generasi kedua juga bisa digunakan jika gejala tidak kunjung membaik dengan pengobatan lini pertama.

Jika urtikaria disebabkan oleh alergi makanan atau obat-obatan, maka langkah selanjutnya adalah menghindari alergen tersebut.

Untuk urtikaria yang lebih parah atau tidak responsif terhadap pengobatan lini pertama, dokter dapat meresepkan obat kortikosteroid untuk mengurangi peradangan dan reaksi alergi.

Selain itu, jika terdapat angioedema yang menyertai urtikaria secara tidak langsung dapat menyebabkan kesulitan pernafasan, dokter mungkin akan memberikan epinefrin atau obat-obatan bronkodilator untuk membantu memperbaiki obstruksi saluran napas.

Saat menghadapi gejala-gejala urtikaria, sangat penting untuk mencari pertolongan medis segerra. Silakan temui dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dan pengobatan yang tepat.

Pencegahan Urtikaria

Pencegahan urtikaria dapat dilakukan dengan mengidentifikasi dan menghindari faktor pencetus yang memicu timbulnya gejala. Faktor-faktor tersebut termasuk alergen makanan atau obat-obatan tertentu, paparan bahan kimia atau zat iritan, serta kondisi lingkungan yang bisa memicu reaksi alergi.

Untuk melakukan pencegahan, ada beberapa langkah yang bisa diambil:

  1. Identifikasi alergen: Jika Anda memiliki riwayat alergi terhadap makn atau obat-obatan tertentu, penting untuk memastikan Anda mengidentifikasi alergen yang memicu reaksi urtikaria.
  2. Hindari alergen: Setelah mengidentifikasi alergen, langkah selanjutnya adalah menghindarinya sebisa mungkin.
  3. Hindari paparan iritan: Selain alergen, faktor-faktor seperti bahan kimia atau zat iritan juga dapat memicu timbulnya gejala urtikaria.
  4. Perhatikan lingkungan: Beberapa kondisi lingkungan tertentu, seperti suhu ekstrem atau kelembapan tinggi, dapat memicu reaksi alergi dan urtikaria.
  5. Jaga kesehatan tubuh secara menyeluruh: Menjaga kebugaran fisik, mengonsumsi makanan sehat, dan menghindari stres bisa membantu meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan dan mengurangi kemungkinan terjadinya serangan urtikaria.
  6. Jangan menunda-nunda pengobatan jika gejala urtikaria tidak kunjung membaik.
  7. Konsultasikan dengan dokter: Jika Anda mengalami serangan urtikaria yang tidak kunjung membaik atau menyebabkan kesulitan pernafasan atau gejala yang parah, sangat penting untuk segera mencari pertolongan medis.
  8. Jaga kebersihan lingkungan sekitar, hindari tempat yang berdebu atau memiliki paparan alergen potensial, seperti bulu binatang atau serbuk sari.
  9. Lakukan Skrining Alergi untuk mengidentifikasi alergen yang dapat memicu reaksi urtikaria.
  10. Gunakan obat antihistamin yang diresepkan oleh dokter untuk mengontrol gejala urtikaria.
  11. Jika pencegahan dengan penghindaran alergen gagal, akan timbul reaksi alergi yang ringan sampai berat, seperti reaksi anafilaksis (Kam & Raveinal, 2018).

 

Referensi

Kam, A., & Raveinal, R.. (2018, July 29). Imunopatogenesis dan Implikasi Klinis Alergi Makanan pada Dewasa. https://scite.ai/reports/10.25077/jka.v7i0.842